Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Powered By Blogger

Islamic Clock

Islamic Calendar

tentang,

Nama : Deden Permana Afandi Alamat : Kp Sinapeul desa alam endah kec rancabali kab bandung 40973

Minggu, 17 April 2011

Solidaritas Antarmanusia

Solidaritas Antarmanusia
Salah satu dimensi yang tidak terpisahkan dari misi profetik Muhammad Rasulullah SAW sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam, ialah ajaran untuk membangun solidaritas antarmanusia. Islam mengokohkan persaudaraan umat manusia sebagai keturunan Adam. Rasulullah menyatakan dalam sebuah Hadis, “Manusia itu semuanya adalah ‘iyalullah (keluarga Allah), dan yang dikasihi Allah adalah yang paling bermanfaat bagi keluarga Allah itu.” (HR Abu Ya’la).

Ajaran itulah yang melandasi tindakan amirul mukminin Umar bin Khattab ketika menemukan seorang tua jompo peminta-minta dari kalangan dzimmi, yakni non-muslim yang hidup dibawah naungan negara Islam masa itu. Khalifah Umar langsung memberi jatah bantuan biaya hidup dari Baitul Maal kepada orang itu sama seperti yang diberikan kepada penduduk miskin di antara umat Islam.

Ketika ada orang meminta pertolongan atau sedang teraniaya, seorang muslim wajib membantu tanpa memandang suku, bangsa, ataupun agamanya. Tetapi Islam sebagai agama yang sangat menghormati hak asasi manusia, tidak membenarkan tindakan membantu orang lain dikaitkan dengan misi penyebaran agama.

Solidaritas antarmanusia yang diajarkan Islam adalah solidaritas universal yang tidak bertepi. Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang diriku dalam kuasa-Nya, kamu tidak akan masuk surga, sebelum kamu beriman. Dan kamu tidak beriman, sebelum kamu cinta mencintai dan sayang menyayangi satu sama lain.” (HR Muslim). “Tidaklah beriman orang yang merasa kenyang sepanjang malam, sedangkan tetangganya menderita kelaparan.” (HR Thabrani).

Islam mengajarkan bahwa harta milik perorangan mempunyai fungsi sosial yang saluran dan mekanismenya telah diatur dengan sebaik-baiknya dalam ketentuan syariah. Jika harta kekayaan telah dijadikan tujuan hidup seseorang atau suatu masyarakat, sesama manusia pun dengan sendirinya akan jatuh menjadi alat bagi sesamanya dan runtuhlah solidaritas kemanusiaan. Dari situlah timbul eksploitasi manusia terhadap manusia lain dengan berbagai bentuk dan cara.

Pandangan hidup materialisme, secara sadar atau tidak, mempengaruhi perilaku manusia, dimana orang lebih menghargai benda daripada hidup manusia. Hubungan antarmanusia pun menjadi longgar dan pragmatis sesuai kepentingan dan bukan karena ketulusan.

Mohammad Natsir menggambarkan tatanan kehidupan sosial yang Islami yakni, “Kehidupan bukanlah perebutan rezeki dan pengaruh, bukan tindasan yang kuat kepada yang lemah, bukan pertentangan yang kaya dengan yang miskin, tapi hidup ialah perlombaan didalam menegakkan sebanyak-banyak kebajikan, untuk manusia. Hidup ialah iman dan amal shaleh, hidup ialah jasa baik yang tidak mengenal mati dan hilang.”

Mengamati berbagai karakter dan perilaku yang muncul di tengah masyarakat belakangan ini, semakin menyadarkan kita terhadap keagungan risalah Nabi Muhammad yang tidak menjadikan persaingan hidup dan perebutan menuntut hak sebagai nafas kehidupan, tetapi mengedepankan perintah untuk berbuat baik (ihsan) dan perlombaan memenuhi kewajiban terhadap sesama. Jika setiap orang telah menunaikan kewajibannya dalam kehidupan bersama, maka semua orang pasti akan mendapatkan haknya.
Wallahu a’lam bisshawaab.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris Baznas.

Sumber: republika.co.id
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.Abatasa.com dari browser ponsel anda!

Chord Killing me inside Biarlah

Author : teguh hari santoso
[intro] F C Bb C

F C Bb
Semua yang berlalu
C
tlah menjadi kenangan
F C Bb
dan seakan kulupakan
C
karena ku tak sejalan

F C
Dan tak mungkin
Bb
ku bertahan
C
meski telah ku coba
F C Bb
semuanya tak berguna
C
terbuang sia sia…

[chorus]
F C Dm
Dirimu di hatiku
Am
sudah terlalu lama
F C Dm
Biarlah Ku moncoba
Am
Untuk tinggalkan semua

F C
Dan tak mungkin
Bb
ku bertahan
C
meski telah ku coba
F C Bb
semuanya tak berguna
C
terbuang sia sia

F C Dm
Dirimu di hatiku
Am
sudah terlalu lama
F C Dm
Biarlah Ku moncoba
Am
Untuk tinggalkan semua

F C Dm
Dirimu di hatiku
Am
sudah terlalu lama
F C Dm
Biarlah Ku moncoba
Am
Untuk tinggalkan semua

F C Dm
Dirimu di hatiku
Am
sudah terlalu lama
F C Dm
Biarlah Ku moncoba
Am
Untuk tinggalkan semua

islam

Berikan kami Al Qur`an, bukan cokelat!`
`Berikan kami Al Qur`an, bukan cokelat!`

“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.

Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!

(Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.)

Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan.

Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya bagi saya.

Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan anak menjerit dan kemudian hilang.

Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat takut. Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau ledakan.

Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah. Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak atau membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang menggigit tulang.

Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang berkebangsaan Mesir mengambil teropong.

“Allahu Akbar!” teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong sekenanya.

Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.

Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha terus tegar.

“Cokelat …,” sodor teman saya setelah mereka sampai di tenda penampungan kami.

Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang menyodorkan sebungkus cokelat tadi.

Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).

Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang berkebangsaan Mesir itu terkesiap.

“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!” katanya hampir setengah berteriak.

Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang dihantam berkali-kali.

Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan ucapannya,

“Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin membaca Al Qur’an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur’an.”

Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.

Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.

“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.

Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al Qur’an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.

[Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali, angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan tahunnya.)]

Disalin dari:
Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah terabaikan? 45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan“, bab “Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!” (hal 83-86)